Indonesiabest destinations : Lost Too Survive

<a href="http://mataram.info/things-to-do-in-bali/visitindonesia-banda-marine-life-the-paradise-of-diving-topographic-point-inward-fundamental-maluku/">Indonesia</a>best destinations : Lost Too Survive



Ada satu hal yang membuat kita resah. Kehilangan. Kehilangan barang, uang, tujuan, apa saja, you lot refer it. Pasti ada hal penting yang anda jaga baik baik agar tidak kehilangan, tapi pada akhirnya anda sadar anda tidak punya kuasa menentukan apa yang tetap ada dan apa yang datang dan hilang.

Untuk saya, kehilangan kepercayaan pada orang yang disayangi paling berat. Materi bisa dicari, kepercayaan dan orang yang kita sayangi, tumbuh dan datang dengan sendirinya. Bukan hal yang bisa kita labeli rumus Influenza A virus subtype H5N1 summation B sama dengan C, sehingga untuk dapat C kita tinggal cari komponen Influenza A virus subtype H5N1 dan B.

Kadangkala, kita sudah memberi kepercayaan begitu besar, melakukan apa saja untuk menjaga hal yang kita tidak ingin kehilangan. Tapi kadang, Tuhan justru mengambil apa yang paling kita jaga. Dan, saat kehilangan, kita berpikir, emosi, memandang kehilangan ini sebagai lelucon paling jelek yang dilakukan yang di atas.

Namun, dibanding merengek kesal, marah pada keadaan, saya berusaha mencari pembenaran. Kenapa kita harus mengalami kehilangan?

Pertama, saya anggap ini ujian. Yes, hidup tidak selalu lurus, kadang berliku liku, kita harus mengalami semua cobaan yang berbeda. Di soal ujian biasanya soal paling susah memerlukan waktu paling lama mengerjakannya, kehilangan hal yang kita sayangi perlu proses mencerna dan melewatinya.

Kedua, kadang bukan hilang tapi yang hilang itu adalah hal yang dipinjamkan pada kita dan waktu peminjaman itu sudah habis. Getting all what’s best and all the memories is what nosotros tin do.

Ketiga, itu bukan milik kita. Apa yang kita pertahankan erat erat, yang kita cintai setengah mati, tidak digariskan untuk kita. Sometimes life seems unfair.
Sometimes it feels similar God only slammed the door inward forepart of you. You think and wondering. Then you lot realized it is non your door. Yours is bigger.

Satu satunya cara menghadapi kehilangan, klise memang, hanya ikhlas. Seringkali kita sendirilah yang membuat kehilangan itu begitu berat, mempertanyakan kepada diri sendiri terus menerus mengapa kita harus kehilangan, marah pada situasi dan mencurahkan semua fokus pada apa yang hilang, bukan apa yang bertahan.

Kalau selama ini ada counter Lost and Found. Mungkin, kita harus bikin counter Lost and Survive di kehidupan kita. For everything that’s lose from us, nosotros volition survive. No affair what, no affair when, no affair why..

@marischkaprue – Lost the i she loved the most, and realized its non hers.

As published on Divemag Republic of Indonesia Vol two No 023 Jan 2012.

RELATED STORIES:


Sumber http://marischkaprudence.blogspot.com/