Indonesiabest destinations : Those Without Sin May Shape The Starting Fourth Dimension Stone.

<a href="http://mataram.info/things-to-do-in-bali/visitindonesia-banda-marine-life-the-paradise-of-diving-topographic-point-inward-fundamental-maluku/">Indonesia</a>best destinations : Those Without Sin May Shape The Starting Fourth Dimension Stone.

Pernah primary truth or dare? Rasanya semua tahu permainan ini. Saat anda dapat giliran, kalau kena dare maka lakukan kegilaan sesuai keinginan teman, kalau kena truth maka lontarkan jawaban atas pertanyaan apapun.

Tapi rupanya kalau di permainan ini saya paling males, atau tepatnya takut kena truth. Kenapa? Simple, kalau kena dare “hanya” buat dosa (entah tiba tiba disuruh ciuman – intens tentunya- dengan random person, atau kegilaan lainnya), nah sedangkan kalau kena truth seringnya harus comes clean, alias “buka” catatan dosa. Jelas kan kalo bikin dosa itu lebih gampang daripada ngaku dosa.

Kita semua pasti punya catatan dosa, hal hal yang kita anggap perbuatan salah, mulai dari hal hal kecil, bohong bohong jinak ke pacar, sampai hal besar. You cite it yourself. Coba gali ke belakang, pasti ada satu dosa yang anda ingat, anda simpan baik baik sampai tidak ada yang tahu. Saya suka menyebutnya muddied laundry, hal kotor yang kita simpan, sampai suatu saat kita berani untuk comes clean.

Pernah seseorang saat ngajak saya bikin dosa, bilang “what’s correct as well as incorrect anyway?” bener juga sih. Apa coba batasan sesuatu disebut dosa? iya, agama, Tuhan, tapi yang membuat batasan persepsi kan anda sendiri. Ah, atau anggap saja tilt itu hanyalah pembenaran untuk membuat dosa. Untuk jadi sinner.

Saya selalu merasa lebih gampang jadi sinners setelah menegak beberapa gelas vino dan sejenisnya. Saat hati bicara kalau sesuatu yang saya lakukan salah, at to the lowest degree I tin blame the alcohol. As long equally nobody know. Yap, muddied laundry bisa dibuka, kita bisa cerita ke teman, tapi pasti ada satu yang kita simpan jauh jauh di dalam karena kalau dibuka kita tidak siap konsekuensinya.

Biasanya kalau mesti comes clean, akhirnya dosa itu diakui, dengan berbagai alasan, cara saya ya salahkan alkohol. Ada teman yang menyalahkan situasi, ada yang menyalahkan yang ngajak bikin dosa, intinya semua fakta bisa diputar, digaris bawah bagian “penyebab” sehingga tampak dosa lah yang menghampiri kita, bukan kita yang menghampiri dosa.

Sebagian akhirnya dengan cara berkelit bisa lolos dari konsekuensi berat ngaku (atau terpaksa ngaku) dosa. Kapok? Sebagian iya, sebagian tidak. Kalau saya sendiri tidak kapok, karena muddied laundry saya masih tersimpan aman, nobody knows. Tapi saya tidak berencana bikin dosa lagi. Kenapa? Too much muddied laundry is simply likewise much to handle.

Dosa itu universal, semua orang pasti punya dosa. Entah dosa kecil atau besar, everyone is a sinner. Saya ingat satu cerita, ada pendosa, pelacur yang akan dihukum ramai ramai, semua warga sudah siap merajam. Tiba tiba ada seseorang yang bilang “Those who’s without sin may shape the showtime stone,” yang tidak berdosa boleh melempar batu pertama. Hasilnya, semua meletakkan batunya dan tidak ada satupun yang melempar.

Everyone is a sinner, but that’s non the point. Clean is meliorate than dirt, then I avoid likewise much muddied laundry. How bout you, sinners?

@marischkaprue – a lightheaded sinner, who hates the fact that she convey to comport her muddied laundry.

equally published on Divemag Indonesia  Vol two No. 019 September 2011


Sumber http://marischkaprudence.blogspot.com/